Bursa Pagi: Global-Regional Cenderung Melamah, IHSG Bergerak di Rentang Konsolidasi

Bursa Pagi: Global-Regional Cenderung Melamah, IHSG Bergerak di Rentang Konsolidasi

Posted by Written on 24 February 2021


Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (24/2), dibuka melemah, melanjutkan kecenderungan penurunan indeks pada penutupan sesi perdagangan saham di bursa utama Eropa dan Wall Street, meskipun pimpinan Federal Reserve Chair Jerome Powell menyatakan The Fed akan tetap melanjutkan kebijakan moneternya, karena inflasi masih "soft" dan ekonomi AS masih jauh dari  full employment . Bursa saham Jepang hari ini masih masih tutup karena libur nasional.

Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan penurunan tajam indeks ASX 200, Australia sebesar 0,58%, terbebani penurunan indeks saham sektor keuangan sebesar 0,63%. ANZ dan Commonwealth Bank merosot 0,6% dan 0,44%, Westpac dan National Australia Bank anjlok 1,03% dan 0,68%. Penurunan indeks berlanjut 0,52% (-35,80 poin) ke posisi 6.803,40 pada pukul 8:15 WIB.

Pada jam yang sama Indeks Kospi, Korea Selatan turun 0,35% ke posisi 3.059,2, setelah dibuka melemah 0,09%.

Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka menguat tipis namun bergerak turun 0,01% (-2,13 poin) di posisi 30.630.51 pada pukul 8:45 WIB. Indeks Shanghai Composite, China sedikit menguat 0,05% di level 3.638,33.

Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada tren penurunan indeks acuan di bursa saham global dan regional, setelah berhasil keluar dari tekanan penurunan pada awal sesi perdagangan kemarin dan ditutup menguat 0,28% menjadi 6.272. Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange melonjak 1,84% ke level USD23,81.

Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini berpotensi menguat terbatas dengan bergerak di rentang konsolidasi. Sejumlah indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya peluang terjadinya penguatan namun masih berisiko terkonsolidasi.

Tim Riset Indo Premier berpendapat, dinaikannya alokasi dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) menjadi Rp699,43 triliun dari sebelumnya Rp688,33 trilun, serta naiknya harga beberapa komoditas seperti CPO, timah, emas diprediksi akan menjadi sentimen positif di pasar.

Sementara itu menguatnya mayoritas indeks di bursa Wall Street seiring meredanya kekhawatiran investor terhadap kenaikan inflasi dan suku bunga diprediksi akan menjadi tambahan sentimen positif untuk IHSG.

IHSG diprediksi akan bergerak menguat dengan  support  di level 6,230 dan  resistance  di level 6,315.

Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;

  • Saham: BBCA (Buy). Support: Rp33,550, Resist: Rp34,700, BBRI (Buy on Weakness). Support: Rp4,740, Resist: Rp4,870, ELSA (Buy). Support: Rp410, Resist: Rp438, WSKT (Buy on Weakness). Support: Rp1,450 Resist: Rp1,515

  • ETF: XBNI (Buy). Syupport: Rp1,014, Resist: Rp1,036, XIHD (Buy). Support: Rp455, Resist: Rp467, 

    XPLC (Buy). Support: Rp450, Resist: Rp458.


Amerika Serikat dan Eropa

Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi ditutup cenderung menguat, setelah Chairman Federal Reserve Jerome Powell meredakan kekhawatiran tentang suku bunga dan inflasi yang lebih tinggi. Powell mengatakan dalam kesaksiannya di hadapan Kongres Amerika Serikat bahwa inflasi masih "lemah" dan prospek ekonomi masih "sangat tidak pasti," mengurangi kekhawatiran akan perubahan kebijakan oleh bank sentral. Ketiga indeks saham acuan berkubang di zona merah pada awal sesi, dan menyisakan indeks Nasdaq di akhir perdagangan. Imbal hasil US Treasury 10-tahun, bertahan stabil di kisaran 1,36%. Imbal hasil US Treasury 30 tahun menyentuh level tertinggi satu tahun di 2,2%.

Ketakutan seputar inflasi meningkat dalam beberapa pekan terakhir di tengah kenaikan tajam imbal hasil obligasi ketika pembuat kebijakan memperdebatkan putaran bantuan ekonomi tambahan. Lonjakan harga akibat stimulus federal dikhawatirkan akan memaksa bank sentral menaikkan biaya pinjaman jangka pendek. Saham teknologi mengurangi kerugian setelah pernyataan Powell. Tesla merosot 2,2% setelah sempat t anjlok 13%, Apple melemah 0,1% setelah terperosok 6% di awal sesi. Saham energi dan keuangan melaju. Sektor energi naik 1,6%, membawa reli 2021 menjadi hampir 27%. karena investor membidik sejumlah emiten yang mereka pikir akan mendapatkan keuntungan dari pemulihan ekonomi.

  • Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,06% (15,66 poin) di posisi 31.537,35.

  • S&P 500 menguat 0,13% (4,87 poin) menjadi 3.881,37.

  • Nasdaq Composite tergelincir 0,5% (-67,85 poin) ke level 13.465,20.
Bursa saham utama Eropa tadi malam ditutup cenderung melemah setelah sesi perdagangan yang berombak. Saham teknologi berguguran di tengah kekhawatiran atas kenaikan imbal hasil obligasi, dan rotasi ke saham yang lebih terkait dengan pemulihan ekonomi. Investor mencerna komentar Chairman Federal Reserve Jerome Powell, yang mengatakan bahwa inflasi relatif "lembut", dan prospek ekonomi masih "sangat tidak pasti." Imbal hasil obligasi Eropa bergerak turun, setelah komentar Powell. Sehari sebelumnya Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde menyatakan bahwa bank sentral "memantau dengan cermat evolusi imbal hasil obligasi nominal jangka panjang." Rilis data inflasi zona euro Eurostat mengkonfirmasi kenaikan 0,2%  (mtm) pada Januari, membalikkan tren penurunan harga selama berbulan-bulan.

Indeks STOXX 600 turun 0,42% menjadi 411,32, dipimpin penurunan harga saham sektor teknologi sebesar 1,8%, sementara sektor ritel meningkat sekitar 0,9%. Saham HSBC sedikit melemah setelah merilis laba tahun 2020 yang melampaui ekspektasi, dan mengumumkan pembayaran dividen untuk pertama kalinya sejak pandemi Covid-19. Saham perusahaan TI perjalanan dan pariwisata Amadeus dan emiten perumahan siswa, Unite Group, melambung 5,9% dan 5,8% menyambut rencana Inggris untuk keluar dari pembatasan aktivitas sosial. Produsen alat memasak Jerman, Rational, anjlok 9,6% setelah mengeluarkan perkiraan yang lebih lemah dari ekspektasi.

DAX 30 Jerman melorot 0,61% (-85,23 poin) ke level 13.864,81.

FTSE 100 menguat 0,21% (13,70 poin) menjadi 6.625,94.

CAC 40 Prancis bertambah 0,21% (12,40 poin) ke posisi 5.779,84.


Nilai Tukar Dolar AS

Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York pagi tadi berakhir menguat, setelah Chairman Federal Reserve, Jerome Powell, menentang ide bahwa kebijakan moneter yang longgar berisiko mendorong inflasi. Meningkatnya kemungkinan Kongres akan meloloskan rencana stimulus Presiden Joe Biden sebesar USD1,9 triliun memicu kekhawatiran tentang kemungkinan lonjakan inflasi. Dalam kesaksian di depan Komite Perbankan Senat AS, Powell mengatakan The Fed akan mempertahankan kebijakannya dengan fokus untuk meningkatkan lapangan kerja.

Poundsterling mencapai level tertinggi hampir tiga tahun pada Selasa pagi, karena investor berspekulasi mereka bahwa peluncuran cepat vaksin Covid-19 akan memungkinkan ekonomi Inggris dibuka kembali dalam beberapa bulan ke depan. Pound juga diuntungkan oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, yang telah mengurangi kemungkinan Bank of England mendorong suku bunga ke bawah nol. Euro dan yen Jepang melemah. Indeks Dolar (Indeks DXY), ukuran kurs  greenback  terhadap sekeranjang mata uang enam negara maju menguat 0,11% menjadi 90,141.


Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

CurrencyValueChange% ChangeTime (ET)
Euro (EUR-USD)1.2149-0.0001-0.01%6:23 PM
Poundsterling (GBP-USD)1.41140.0001+0.01%6:23 PM
Yen (USD-JPY)105.250.000.00%6:23 PM
Yuan (USD-CNY)6.46670.0019+0.03%10:29 AM
Rupiah (USD-IDR)14,092.50-25.00-0.18%2:56 AM

Sumber : Bloomberg.com, 23/2/2021 (ET)


Komoditas

Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges hingga pagi tadi ditutup mendekati level tertinggi sepanjang tahun, di tengah tanda-tanda pelonggaran pembatasan virus korona global. Namun kekhawatiran tentang laju pemulihan ekonomi AS dan kembalinya produksi minyak Texas menahan kenaikan. Pemulihan ekonomi AS, menurut Chairman Federal Reserve, Jerome Powell, tetap "tidak merata dan jauh dari selesai." Perlu "beberapa waktu" sebelum The Fed mempertimbangkan untuk mengubah kebijakannya untuk tercapainya  full employment di AS.

Produsen dan penyuling shale-oil  di bagian selatan AS perlahan-lahan melanjutkan produksi, setelah fasilitas produksi minyak mentah 2 juta bph dan hampir 20% dari kapasitas penyulingan ditutup akibat badai musim dingin pekan lalu. Namun beberapa produsen  shale-oil  memperkirakan produksi minyak yang lebih rendah pada kuartal pertama. Goldman Sachs memperkirakan harga Brent akan mencapai USD70 per barel pada kuartal kedua dari USD60 yang diprediksi sebelumnya, dan USD75 pada kuartal ketiga dari ekspektasi USD65 sebelumnya. Morgan Stanley, memperkirakan Brent akan mencapai USD70 pada kuartal ketiga. Bank of America mengatakan harga Brent bisa melonjak menjadi USD70 pada kuartal kedua.

  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 3 sen menjadi USD61,67 per barel.

  • Harga minyak mentah berjangka Brent naik 13 sen (0,2%) menjadi USD65,37 per barel.
Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pagi tadi berakhir melemah di tengah apresiasi dolar AS, meresepon komentar Chairman Federal Reserve Jerome Powell, bahwa pemulihan ekonomi AS "tidak merata dan jauh dari selesai" dan "memperkirakan inflasi tidak akan naik ke tingkat yang mengganggu." Analis mengatakan emas mungkin tidak akan berbalik arah untuk mendapatkan keuntungan secara substansial "sampai kita mendapatkan lonjakan nyata dalam ekspektasi inflasi atau The Fed yang berbicara tentang pengendalian kurva imbal hasil."

Kenaikan imbal hasil menekan daya tarik emas sebagai lindung nilai inflasi, karena meningkatkan  opportunity costHarga logam berharga lainnya;  perak merosot 2,4% menjadi USD27,49 per ounce, platinum tergelincir 3,3% menjadi USD1.230,54, paladium anjlok 2% menjadi USD2.349,26.

  • Harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi USD1.803,62 per ounce.

  • Harga emas berjangkamelemah 0,1% menjadi USD1.805,90 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)

#YukNabungETF 

#IPOTKaryaAnakBangsa 

#BanggaPakeIPOT 

#IPOTPionner


comments

logo-ipotnews

Franky Kurniawan

author